BERMAIN PLAYDOUGH

Bermain playdough adalah salah satu aktivitas yang bermanfaat untuk perkembangan otak anak. Orang tua bisa mengenalkan berbagai macam konsep melalui playdough, antara lain : tekstur, warna, ukuran, serta merangsang kreativitas (anak berlatih untuk menciptakan sesuatu).

Image : greenmomhappymom.com


BAHAN :

  • 2 cup tepung terigu
  • 1 cup garam
  • 1 sdm minyak goreng
  • 1 cup air
  • pewarna makanan berbagai macam

ALAT :

  • Berbagai cetakan
  • Pisau plastik
  • Rolling pins
  • cotton buds

CARA :

  • Campurkan semua bahan, uleni sampai kalis (tidak menempel di tangan)
  • Tambahkan minyak, jika adonan terlalu keras
  • Ambil pewarna dengan cottonbuds, tempelkan pada adonan, kemudian campur pewarna dan adonan tersebut sampai warna rata
  • Bentuk sesuai keinginan

CATATAN UNTUK ORANG TUA :

Aspek perkembangan yang dirangsang oleh materi ini:

a. Motorik halus    :

Ketika membuat bentuk-bentuk  tertentu playdough, anak akan banyak melakukan aktivitas meremas, menekan dan memotong, yang berfungsi untuk  merangsang motorik halusnya.

b. Bahasa                  :

Sambil bermain, orang tua bisa mengenalkan berbagai macam kata  baru dan konsep pada anak. Playdough merupakan aktivitas menyenangkan bagi sebagian besar anak. Dalam pengenalan konsep, sebisa mungkin orang tua harus membuat suasana menyenangkan. Ajak anak untuk terlibat aktif, mulai dari membuat bahan dasar playdough sampai membuat bentuk tertentu. Kenalkan setiap jenis bahan yang dipakai misalnya “kakak, hari ini kita mau main playdough, bahannya apa saja ya? Ada tepung terigu, air, minyak,..(dst)”.

Orang tua juga bisa mengenalkan berbagai macam bentuk dasar seperti lingkaran, segitiga, dan kotak. Bunda boleh sekaligus mengenalkan warna ketika mengenalkan bentuk “ wah..kakak, ayo kita bikin kotak, hm…warnanya apa ya? Gimana kalau kuning”

“selanjutnya, kita bikin lingkaran berwarna hijau ya”

Sesekali orang tua bisa membiarkan anak memutuskan apa yang ingin dibuatnya dan bentuk apa yang dia inginkan. Agar anak punya “rasa memiliki” terhadap aktivitas dia saat itu, juga mengasah ketrampilan anak untuk mengambil keputusan dan mengungkapkan keinginan.

c. Sosial                     : belajar berbagi (bila bermain bersama)

d. Emosi                    : playdough juga bisa menjadi sarana untuk menanamkan berbagai macam perilaku positif kepada anak, mengajari anak untuk bersabar, tekun, dan bangga akan hasil karyanya. Sebagai contoh, ketika orang tua dan si kecil membuat pinguin dari playdough, orang tua bisa membuat bentuk-bentuk dasar berupa tangan dan kaki. Saat si kecil ingin menyambungkan tangan penguin tersebut ke badannya, tanpa sengaja, si kecil menekan terlalu keras, hingga tangan pinguin gepeng. Si kecil kecewa, dan marah, bahkan kadang sampai enggan untuk meneruskan pekerjaanya (ini biasanya dialami anak usia 2-4 tahun). Bunda bisa mengarahkan si kecil untuk meneruskan prakaryanya hingga selesai.

“wah..tangan pinguinnya gepeng yang sayang…”

“tidak apa-apa sayang, kita bisa bikin tangan pinguin yang baru”

Ketika anak menuruti perkataan bunda dan memutuskan untuk membuat tangan penguin baru, bunda bisa memberikan apresiasi:

“Wah, Subhanallah, ternyata kakak anak yang sabar dan tekun, Alhamdulillah, pinguinnya selesai dan bagus sekali, selamat ya kakak..”

e. Kognitif                       :

Menstimulasi kognisi anak melalui playdough bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengklasifikasikan bentuk, warna dan ukuran yang benda-benda yang dibuat dengan playdough. Orang tua juga bisa mengenalkan angka, mengajari berhitung, bahkan mengajari anak menakar, ketika Bunda mengambil tepung untuk membuat playdough.

TRIK DAN TIPS:

Gunakan bahasa yang dipahami anak, sesuai usia anak.  Usahakan anak terlibat dalam setiap tahapan pembuatan playdough. Sebaiknya Bunda mengetahui sejauh mana pemahaman anak terhadap sebuah kalimat. Khusus untuk anak di bawah tiga tahun (yang notabene masih terbatas kemampuan komunikasinya), orang tua bisa memeriksa dengan memberikan perintah sederhana kepada anak, jika anak bisa menurutinya, orang tua bisa memberikan perintah yang setingkat lebih sulit. Sebaiknya digunakan kalimat ajakan, agar anak lebih nyaman, dan merasa bermain dengan teman. Misalnya

“ ayo kita ambil pisau di atas meja” jika anak bisa mengerjakannya, Bunda bisa memberikan perintah yang lebih rumit, misalnya

“ayo kita ambil pisau di atas meja, lalu kita simpan di karpet bermain kakak ya..”

Jika anak belum bisa memahami perkataan Bunda, gunakan bahasa yang lebih sederhana.

Ingat untuk selalu memberikan apresiasi kepada anak, ketika anak berhasil melakukan sesuatu. Apresiasi berguna untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak. Apresiasi ini bisa berupa pujian yang mengarah kepada anak langsung, misalnya (wah, anak pintar, anak sholeh, dll.), atau  bisa juga apresiasi yang menyertakan nilai Ke-Tuhan-an, misalnya “Alhamdulillah, kakak berhasil membuat tangan pinguin).

CATATAN LAIN :

  • Semua stimulasi yang diberikan ketika bermain playdough, harus disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang anak. Orang tua tidak perlu menuntut anak untuk langsung bisa mengklasifikasikan warna, mengenali bentuk, dll. Untuk anak usia pra-sekolah, semua aktivitas bersifat pengenalan dan eksplorasi, sebaiknya dampingi anak untuk bisa bereksplorasi dan bereksperimen sebanyak-banyaknya. Buat suasana bermain semenyenangkan mungkin. Anak balita cenderung tidak betah berlama-lama dengan satu aktivitas, selama bermain playdough Bunda bisa mengajak anak bernyanyi, melompat, atau berlari (lomba mengambil cetakan misalnya). Selanjutnya akan sangat bergantung pada kreasi orang tua  :D
  • Karena playdough terbuat dari bahan makanan, aman jika termakan (asiin banget). Sebelum mulai membuat prakarya dengan playdough, orang tua bisa memberi pengertian bahwa, playdough  bukan makanan, tapi mainan.

LIHAT LEBIH DETAIL :

Manfaat bermain playdough :

Resep Playdough Homemade :

Berbagai bentuk yang dapat dibuat dari playdough :

About these ads